Friday, March 10, 2017

DK959 Monsanto Catat Rekor Tertinggi Produksi Jagung di Lamongan

Info terbaru - Benih  unggul menjadi salah satu faktor penting dalam me­ning­katkan produksi dan pro­duktivitas  petani jagung di Desa Banyubang, Kec. Solokuro, Kab. Lamongan, Jawa Timur (Jatim). Benih jagung hibrida produksi Monsanto yang telah dikembangkan sejumlah petani di Desa Banyubang terbukti mampu memproduksi jagung hingga 12,71 ton per hektar.

Salah satu petani Desa Banyubang, Hj. Kasiami yang telah memanfaatkan benih jagung hibrida produk Monsanto, Dekalb 959 (DK959) mencatat rekor tertinggi produksi jagung yang di demfarm Taman Teknologi Pertanian (TTP) Kec. Solokuro, Kab. Lamongan. Atas pencapaian produksi maksimal tersebut, Bupati Lamongan, H. Moh. Fadeli, Selasa (24/1) meng­apresiasi petani tersebut dengan memberi hadiah.

Bupati Lamongan pun men­dorong petani di 12 kecamatan untuk menggunakan benih jagung hibrida yang sudah terbukti mampu mendorong produksi dan produktivitas petani. “Setelah kita lakukan ubinan, produksi jagung yang dilakukan petani di sini hasilnya rata-rata 10,6 ton per hektar,” kata Fadeli, saat panen jagung modern di Desa Banyubang, Kec. Solokuro, Lamongan, belum lama ini.

Menurut Fadeli, ada 12 varietas benih jagung yang ditanam petani di sini. Dari 12 varietas itu, ada lima varietas unggulan yang produksinya antara 9 - 12,71 ton per hektar. Benih jagung hibrida yang diproduksi Monsanto pun masuk lima besar varietas unggulan.

Dari lima varietas benih jagung hibrida tersebut, dua diantaranya adalah produk benih jagung hibrida Monsanto (DK95 dan DK959). DK95 mampu menghasilkan (memproduksi,red) jagung dengan kadar air 17% sebanyak 12,51 ton per hektar. Sedangkan DK959 mampu mem­produksi jagung sebanyak 12,71 ton per hektar.

Bupati Lamongan pun me­rekomendasikan agar petani jagung di Lamongan untuk meng­gunakan benih jagung hibrida varietas unggul. “Silakan petani memilih benih jagung varietas unggul ini. Kalau tahun lalu kita kembangkan lahan jagung di kawasan 100 hektar, maka tahun 2017 akan kita kembangkan lagi di 10.000 hektar di 12 kecamatan di Lamongan,” kata Fadeli.

Fadeli juga mengajak petani, perusahaan benih jagung, dan kalangan perguruan tinggi untuk mengembangkan jagung di Lamongan. Khususnya bagi perusahaan benih jagung hibrida juga didorong melakukan inovasi demi terwujudnya swasembada jagung nasional

“Kalau di Lamongan sudah swasembada jagung. Karena itu, swasembada jagung nasional kita mulai dari sini,” katanya.

Tercatat, produksi jagung di Lamongan tahun 2015 sebanyak 325 ton. Kemudian, pada tahun 2016 meningkat menjadi 340 ton, dan pada tahun 2017 ditargetkan produksi jagung yang ditanam petani di demfarm seluas 10.000 hektar ini produksinya rata-rata 10 ton per hektar. “Di Kecamatan Solokuro sendiri ada sekitar 1.200 hektar lahan jagung. Karena itu, mari tempat ini kita jadikan pembelajaran bagi petani Jagung.” ujar Fadeli.

Pusat Benih Jagung Hibrida

Bupati Lamongan, H. Moh. Fadeli selain mendorong petani untuk terus menanam jagung, juga berharap Kab. Lamongan menjadi salah satu pemasok benih jagung hibrida ke daerah lain. Sebab, Kab. Lamongan punya potensi lahan yang luas untuk memproduksi jagung secara modern dan untuk pengembangan benih.

“Lamongan punya potensi pertanian jagung seluas 58.000 hektar. Di sebelah utara ada lahan seluas 14.800 ha. Kita sudah buktikan melakukan percontohan di sini dan cukup berhasil,” ujar Fadeli.

Menurut Fadeli, petani jagung di Lamongan sudah terbukti bisa memproduksi jagung dengan baik di lahan percontohan seluas 100 hektar ini. Hasilnya luar biasa, rata-rata di atas 10 ton per hektar.

“Keberhasilan ini terus kita lanjutkan di tahun 2017. Petani kita ajak belajar di sini, mulai proses pengolahan tanah, cara menanam jagung, pemupukan, dan mencari varietas benih jagung hibrida. Dan semuanya bisa dilakukan di sini,” kata Fadeli.

Fadeli juga berharap wilayah Lamongan menjadi ikon dan lum­bung jagung nasional. Sehingga, swasembada jagung bisa dimulai dari Lamongan. “Karena itu, pemerintah pusat kami harap jangan terlalu sulit untuk memberi fasilitas bantuan sarana dan prasarana produksi seperti benih jagung hibrida dan pupuk,” papar Fadeli.

Sesuai rencana, jagung yang dikembangkan petani Lamongan akan menganut pola inti plasma. Artinya, peme­rintah daerah (Pemda) setempat juga berkomitmen untuk meng­gan­deng peran swasta demi ter­wujudnya swasembada jagung nasional.

Dekatkan Petani dengan Teknologi

Kendati produksi jagung di Lamongan pada kurun waktu dua tahun terakhir sudah surplus, Peme­rintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan tetap bersemangat untuk mengembangkan jagung di daerahnya. Pemkab Lamongan pun mendekatkan petani jagung dengan cara mengaplikasi tekno­logi agar produksi dan pro­duk­tivitasnya tinggi.

“Pembinan petani jagung meliputi cara tanam yang benar, pemilihan benih jagung hibrida yang baik, hingga menyiapkan pasarnya dengan menggandeng pabrik pakan,” kata Direktur Budidaya Serealia, Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Nandang Sunandar, di Lamongan, belum lama ini.

Menurut Nandang, kawasan Lamongan memiliki potensi untuk pengembangan jagung yang cukup prospektif. “Langkah kerja seperti yang dilakukan Pemkab Lamongan harus kita dorong. Presiden minta kita stop impor jagung pada tahun 2018. Nah, untuk mewujudkan hal itu kita coba selesaikan semuanya di tahun 2017,” kata Nandang.

Pemkab Lamongan, lanjut Nandang patut diapresiasi, karena tak ego sektoral dan punya keinginan kuat untuk melakukan swasembada jagung. Karena itu, Kementan siap memasok kebutuhan benih jagung hibrida di Lamongan. “Kami jamin bisa memenuhi berapapun benih jagung hibrida yang dibutuhkan petani Lamongan. Kementan saat ini ada stok benih untuk dialokasikan di lahan seluas 750.000 hektar,” katanya.

Stok benih jagung hibrida itu, menurut Nandang, sebagian bisa dialokasikan untuk kebutuhan petani di Lamongan. “Niatan baik Pemkab Lamongan ini patut kita apresiasi. Apalagi, pada tahun 2017, Pemkab Lamongan akan mengembangkan lahan jagung di lahan seluas 10.000 hektar,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur (Jatim), Moh. Cholil Mahfud. Menurut Cholil, Bupati Lamongan Moh. Fadeli selain kreatif juga inovatif. “Demfarm yang dikembangkan di sini ini juga ide beliau. Setelah pulang dari Amerika Serikat beliau langsung punya ide untuk mengembangkan jagung di sini,” katanya.

Cholil juga mengatakan, Pemkab. Lamongan juga mem­fasilitasi agar petani menerapkan pertanian modern. Sehingga, petani Lamongan juga diberi bantuan traktor, combine harvester dan saprotan. “Ada juga jaminan pasar. Karena sudah ada kerjasama dengan perusahaan yang punya kapasitas produksi sehari 2.000 ton,” papar Cholil.

Lebih lanjut, Cholil juga mengatakan, petani pun diberi motivasi supaya produktivitas jagungnya meningkat. Petani jagung harus menerapkan per­tanian modern sehingga lebih efektif dan efisien. “Petani hanya bertugas untuk menanam jagung. Pemerintah berperan me­mudahkan petani men­dapatkan benih jagung hibrida. Dan hasilnya, ada sejumlah petani yang bisa memproduksi jagung sebanyak 12,7 ton per hektar. (sumber : www.tabloidsinartani.com

Post a Comment

Start typing and press Enter to search