Thursday, March 2, 2017

Cantrang Dilarang, Pabrik Surimi Gulung Tikar

Larangan pemakaian alat tangkap cantrang yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.2/2015 berdampak terhadap lesunya kegiatan nelayan dan pelaku usaha perikanan di pantai utara (Pantura) Jawa. Bahkan larangan tersebut membuat 15 perusahaan surimi yang beroperasi di Pantura Jawa gulung tikar alias tutup.

Dampak larangan penggunaan alat tangkap cantrang yang dinilai tak ramah lingkungan membuat nelayan Pantura Jawa takut melaut. Karena tak dibarengi dengan solusi yang tepat, ribuan nelayan cantrang asal Pantura Jawa sempat melakukan aksi unjuk rasa ke KKP dan Istana Negara Tahun 2016 lalu.

Lantaran banyak nelayan yang tak melaut, pabrik surimi di Pantura Jawa kesulitan mendapatkan bahan baku. “Bahan baku surimi biasanya diperoleh dari tangkapan sampingan nelayan cantrang. Karena nelayan banyak yang melaut, sejumlah perusahaan surimi sulit mendapatkan bahan baku,” kata Presiden Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Budhi Wibowo dalam workshop bertajuk Pro Kontra Pembangunan Kelautan dan Perikanan, di Jakarta, pekan lalu.

Padahal menurut Budhi, sebanyak 15 pabrik surimi yang tutup tersebut punya potensi penjualan sebesar 200 juta dolar AS/tahun. Sedangkan investasinya sekitar 115 juta dolar AS. Lebih disesalkan lagi, kehadiran Permen KP No.2/2015 makin diperkuat dengan terbitnya Permen KP No. 71/2016.

Sebagai ketua asosiasi, Budhi mengaku belum pernah diminta pendapat tentang Permen tersebut. Saat ini masih ada pro kontra terkait larangan penggunaan cantrang. Ada ahli berpendapat penggunaan cantrang pada kedalaman air lebih 20 meter tetap ramah lingkungan. Bahkan, ada usulan pengunaan alat tangkap tersebut jangan dilarang total, tapi diatur penangkapan 12 mil ke atas. Sehingga, alat tersebut masih ramah lingkungan.

Budhi mengusulkan agar dibuat tim independen untuk membahas persoalan tersebut. Tim yang terdiri dari akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah ini nantinya bertugas untuk mencari solusi terhadap persoalan tersebut. (Sumber : tabloidsinartani.com)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search