Wednesday, February 22, 2017

RI-Ausy Perkuat Kerjasama Cegah dan Kendalikan Penyakit Ternak Menular

Pemerintah Indonesia meningkatkan kerjasama dengan Pemerintah Australia dalam konteks One Health, terutama mencegah penyakit hewan menular. Kerjasama tersebut merupakan program kemitraan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian dengan Departemen Pertanian dan Sumber Daya Air (DAWR) Australia.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita mengatakan, kerjasama ini untuk penguatan pelayanan veteriner di Indonesia, terutama pencegahan, deteksi dan pengendalian penyakit-penyakit hewan menular prioritas dan yang baru muncul. “Anggaran kerjasama didanai Pemerintah Australia sebesar 6,9 juta dolar Australia dalam kurun waktu tiga tahun yakni 2015 hingga 2018,” kata Ketut di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, fokus program Australia-Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases (AIP-EID) tahap dua ini merupakan kelanjutan AIP-EID Tahap satu yang telah dilaksanakan pada periode 2010-2014. Kegiatan itu  untuk mendukung terbangunnya kapasitas dalam mendeteksi dan respons tehadap penyakit-penyakit menular.

Program AIPEID tahap dua mengambil pendekatan pembangunan berkelanjutan untuk mendukung pencegahan, deteksi, dan pengendalian penyakit-penyakit hewan menular prioritas dan yang baru muncul. “Sasaran ini selaras dengan prioritas pemerintah Indonesia untuk mengendalikan penyakit zoonosis, serta meningkatkan produksi ternak domestik untuk memastikan keamanan pangan dan menstabilkan harga pasar untuk produk ternak,” ujar Ketut.

Program kemitraan Australia-Indonesia AIPEID 2 difokuskan pada tiga komponen. Pertama, persiapan dan kesiapsiagaan darurat. Kedua, sistem Informasi kesehatan hewan. Ketiga, penguatan kapasitas kepemimpinan dan manajemen untuk mencegah munculnya penyakit-penyakit baru yang berpotensi menjadi ancaman ekonomi dan ancaman sosial di Indonesia.

“Jika terjadi outbreak suatu penyakit di wilayah di Indonesia, tentunya ini akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah”, ungkap Ketut. Karena itu, lanjut Ketut, pihaknya akan mengoptimalkan kinerja SIKHNAS (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional) yang terintegrasi.

SIKHNAS lanjut dia, harus didesign kembali agar early report atau early detection dapat berjalan dengan baik, sehingga pemerintah dapat bergerak cepat mengambil keputusan atau langkah-langkah aksi dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan, agar jangan sampai terjadi outbreak.

Ketut berharap, dengan anggaran pemerintah yang terbatas, kerjasama dengan pemerintah Australia sangat diperlukan, terutama dalam penanganan penyakit hewan. Selain itu, pengembangan SIKHNAS saat ini juga berfungsi menjadi sistem monitoring dan pelaporan program Upsus Siwab. (Sumber : tabloidsinartani.com)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search