Tuesday, February 21, 2017

Permintaan ekspor minyak sawit semakin meluas

Permintaan ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit pada tahun 2017 diperkirakan akan melonjak dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspor minyak sawit yang sebelumnya, masih terfokus ke AS, China, Pakistan, dan Belanda. Ke depan diperkirakan akan berkembang ke sejumlah pasar baru seperti Rusia, Spanyol, dan Italia.

“Saya perkirakan permintaan minyak sawit tak hanya terjadi di AS, tapi akan terjadi di sejumlah negara-negara yang sebelumnya menggunakan minyak kedelai,” kata mantan Dirut Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) Bayu Krisnamurthi, di Jonggol, belum lama ini.

Menurut Bayu, meningkatnya permintaan minyak sawit akan terjadi setelah Food and Drug Administration United State of America (Otoritas Keamanan Pangan AS, atau BPOM-nya AS) yang menjadi rujukan dunia menyatakan minyak sawit tak miliki zat berbahaya. “FBA juga mengeluarkan warning terhadap penggunaan minyak sawit yang mengandung zat berbahaya seperti kedelai. Ini kabar baik yang kita sosialisasikan,” katanya.

Bayu mengemukakan, adanya warning dari FDA tersebut, ekspor minyak sawit nantinya akan dikembangkan ke sejumlah negara yang sebelumnya menggunakan minyak kedelai. Selain itu, negara-negara seperti Iran, Irak dan Timur Tengah juga potensial untuk digarap.

Menurutnya, selama ini ekspor minyak sawit ke AS sekitar 800 ribu-1 juta ton/tahun. Pasar AS masih didominasi untuk kebutuhan biodiesel. Artinya, untuk kebutuhan konsumsi minyak goreng belum banyak. Sehingga, pasar minyak sawit di Negara Paman Sam masih potensial untuk digarap.

“Di AS, biodiesel juga masih disubsidi. Untuk itu, kita menunggu kebijakan Presiden AS terpilih, Donald Trump apakah masih peduli lingkungan atau tidak. Kalau ternyata tidak, maka ekspor minyak sawit kita ke AS akan terganggu,” kata Bayu.

Bayu yang juga Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian (Perhepi) tersebut juga memperkirakan, panen sawit pada tahun 2016 yang membaik akan berlanjut di tahun 2017. “Selama ini produk sawit sebanyak 40% berupa minyak sawit, 40% biodisel dan sisanya untuk bahan sabun dan kosmetik lainnya. Jadi, peluang ekspornya masih cukup besar,” papar Bayu. (Sumber tabloidsinartani.com)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search