Wednesday, February 22, 2017

Pengembangan Lada Perdu

Indonesia mempunyai potensi dan peluang besar untuk tetap memprioritaskan pengembangan lada untuk sasaran ekspor. Produksi lada nasional terbesar berasal dari Lampung, Bangka dan Bengkulu (Sumatera). Selain itu, tanaman lada juga terdapat di Kalimantan Barat dan mulai ditanam di beberapa daerah lain di wilayah nusantara.

Tanaman Lada yang selama ini dikembangkan dengan bahan tanaman berasal dari sulur panjat,  akhir-akhir ini bahan tiang panjatnya semakin mahal dan sulit diperoleh. Dalam penggunaan tiang panjat mati biaya yang dikeluarkan oleh petani sebesar 60% dari total modal usahatani, sedangkan penggunaan tiang panjat hidup menyebabkan produktivitas tanaman lada rendah karena adanya persaingan cahaya, unsur hara, air dan CO2. Semakin meningkatnya persaingan harga di pasaran dunia, maka perlu penerapan teknologi budidaya lada yang mampu meningkatkan efisiensi usahatani lada.

Lada perdu yang merupakan hasil rekayasa teknologi diharapkan dapat menekan biaya produksi karena tanaman ini memiliki beberapa keunggulan seperti tidak memerlukan tiang panjat, berproduksi lebih awal, pemeliharaan dan panen lebih mudah, serta dapat ditanam secara multiple cropping (tanaman tumpangsari) dan intercropping (tanaman sela) di antara tanaman kelapa atau tanaman tahunan lainnya. Keberhasilan pengembangan lada perdu  akan sangat tergantung kepada partisipasi penuh masyarakat petani lada, sehingga bagaimanapun baiknya program yang disusun tidak akan berhasil tanpa partisipasi masyarakat pekebun dan para pelaku usaha   lainnya.



Tak Lagi Perlu Tiang Panjat

Tanaman lada yang diperbanyak dari cabang primer, sekunder dan bertapak dari tanaman lada, tidak memerlukan tiang panjat, memiliki tajuk berbentuk perdu dengan diameter 100-150 cm dan tinggi tanaman 90-120 cm, perakaran terkonsentrasi di sekitar permukaan tanah dengan kedalaman antara 30-60 cm, batangnya berupa sulur berbuku-buku dan berbentuk silindris, daun tumbuh di setiap buku dengan kedudukan berselang-seling, tulang-tulang cabang melengkung dengan jumlah 3-4 pasang. Keuntungan lainnya yaitu populasi persatuan luas lebih banyak dan bisa ditanam pada lahan pekarangan maupun dalam pot sebagai hiasan di sekitar rumah, berproduksi lebih awal, pemeliharaan dan panen lebih mudah.

Pengembangan Bibit

Memang sangat perlu kita perhatikan cara pelaksanaan pengembangannya  antara lain cara pemilihan pohon induknya dari varietas Petaling 1, Petaling 2, Lampung Daun Kecil (LDK), Chunuk 1, Natar 2 dan Bengkayang. Perbanyakannya secara vegetatif (stek) adalah dari varietas unggul dan sehat, serta dalam keadaan pertumbuhan aktif, tidak berbunga atau berbuah. Untuk memperoleh bahan tanaman yang baik, dua minggu sebelum pengambilan stek sebaiknya pohon induk dipupuk dengan 750 gram NPKMg (12-12-17-2). Pengambilan stek antara pukul 11-12 merupakan waktu yang paling baik untuk pertumbuhan akar dan tunas stek lada perdu, mengingat pada saat itu kandungan karbohidrat tanaman paling tinggi. Stek bahan tanaman dapat disiapkan dengan dua cara yaitu stek cabang bertapak berasal dari cabang primer dengan 3-4 tahun, menyertakan 1 buku sulur panjat pada pangkal stek. Stek cabang buah berasal dari cabang buah primer, sekunder dan tersier. Namun demikian untuk stek buah sebaiknya berasal dari cabang buah sekunder (2-3 buku) dengan 2-4 daun karena menghasilkan persentase tumbuh yang lebih baik. Selanjutnya bagian stek yang dikerat dicelupkan dalam larutan H2SO4 2% selama 30-60 detik, kemudian stek direndam dalam larutan IBA 2% + Sukrosa 2% selama 4 jam. Dapat juga dilakukan dengan cara merendam stek dalam larutan air kelapa 25% selama 12 jam. Untuk keperluan seleksi awal bakal bibit diperlukan persemaian pada bedengan dengan lebar 1-1,2 m dan susunan media tumbuh terdiri atas koral 5 cm, ijuk 5 cm dan pasir halus 15-20 cm. Stek ditanam dengan jarak 10–15 m antar barisan dan 6–8 cm dalam barisan. Lama stek persemaian 6-8 minggu, lama stek di pembibitan 6-8 bulan dan bunga atau buah yang terbentuk harus dibuang atau dirompes. Selama stek di pesemaian dan pembibitan perlu diberi naungan atau sungkup dari daun rumbia, paranet, atau plastik warna merah. Pemeliharaan lada perdu meliputi penyiangan dan penggemburan tanah, perompesan bunga, pemupukan, pemberian mulsa, pembuatan para-para dan pengendalian hama penyakit.

Dalam usaha mencapai hasil produksi yang baik hendaknya dilakukan pengolahan lahan yang baik, yaitu : Pembukaan lahan untuk tanaman lada perdu secara monokultur dengan membersihkan lahan dari pepohonan, belukar, rumput dan alang-alang. Apabila budidaya lada perdu pada tanaman sela (intercropping) di antara tanaman kelapa atau tanaman tahunan lainnya, maka pekerjaannya hanya membersihkan atau membabat semak, rumput-rumputan dan alang-alang. Pengolahan tanah dengan dibajak atau dicangkul sedalam 20 cm. Pengajiran dilakukan dengan jarak tanam 1 m dalam barisan dan 1,5-2 m antar barisan. Pada tempat pengajiran dibuat lubang tanam 40x40x40-60 cm dan dibiarkan 2-3 minggu, lubang yang akan ditutup diisi dengan tanah bagian atas yang telah dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 5-10 kg/lubang, untuk tanah masam  campurkan kapur atau dolomit 0,5 kg per lubang agar kemasaman dapat dinetralisir. Kemudian lubang ditutup dan di atasnya dibuat guludan individu setinggi 20 cm dan dibiarkan 3-4 minggu sampai guludan mantap.

Bila usaha persiapan lahan sudah sesuai dengan standar teknis, maka penanaman yang dilakukan harus memperhatikan bahan tanam atau bibit sudah waktunya dapat ditanam yaitu stek sudah cukup rimbun (umur 6-9 bulan), penanaman dilakukan pada saat musim hujan dengan merobek polibag dan masukkan bibit dalam lubang tanam dan kemudian ditimbun dengan tanah di sekitarnya.

Pemeliharaan tanaman yang sangat penting dan menentukan produksinya optimal antara lain pemupukan, dengan pemberian pupuk kandang 5-10 gram/tanaman dan pemberian mulsa yang dilakukan setiap awal musim kemarau. Pupuk organik NPKMg 12-12-17-2 yang diberikan mulai awal musim penghujan dengan cara melingkar untuk tanaman muda dan cara tugal atau larikan pada tanaman berumur 2 tahun pada jarak 15-20 cm dari pangkal batang, pemupukan kedua, ketiga dan keempat dilakukan selang 40 hari selama musim hujan.

Dari hasil-hasil penelitian memperlihatkan bahwa pemberian pupuk kandang 10 gram/tanaman/tahun berpengaruh baik terhadap pertumbuhan lada perdu. Pemberian NPKMg 12-12-17-2 pada tanaman umur 1, 2 dan 3 tahun dengan masing-masing dosis 50 gr/tan/th, 100 gr/tan/th, dan 200 g/tan/th dengan frekuensi pemberian pupuk 4 kali setahun ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi lada perdu.

Sembilan Bulan dari Bunga

Dalam pemungutan hasil yang perlu diperhatikan antara lain, selama umur tanaman 12 bulan pertama semua bunga dan buah yang terbentuk dibuang, setelah tahun ke 2 bunga dan buah dibiarkan karena tanamannya sudah cukup rimbun. Mulai keluarnya bunga menjadi buah diperlukan waktu 9 bulan, bila hasil lada akan dijadikan lada hitam maka buah dianggap masak petik apabila butir-butir buah dalam tandannya sudah mencapai ukuran normal, cukup keras (sukar dihancurkan dengan tangan dan berwarna hijau sampai hijau kekuningan, hal ini biasanya mencapai 8 bulan sesudah pembungaan. Panen dilakukan beberapa kali selama musim kemarau, tandan buah dimasukkan dalam karung dan dibawa ke alat perontok buah. Selanjutnya butir-butir buah lada dijemur sampai mencapai kadar air 12% dan menjadi lada hitam.

Apabila akan dijadikan lada putih, maka masa panennya adalah 8-9 bulan setelah pembungaan yaitu saat-saat butir lada berwarna hijau kekuningan sampai merah. Biasanya apabila sebuah tandan terdapat 1-2 butir buah lada berwarna merah dalam satu tandan maka tandan tersebut dapat dipetik dan dimasukkan dalam karung lalu direndam dalam air mengalir/air sungai, lama perendaman 7-10 hari. Kemudian dibersihkan dari kulit biji lada dan kotoran lainnya, setelah bersih direndam kembali di dalam air mengalir selama 1-2 hari. Biji lada dinyatakan kering bila kadar airnya mencapai 12% atau bila digigit dengan gigi sulit dipecahkan dan seandainya dapat dipecahkan maka bunyi nyaring dan keluar aroma menyengat.

Ir. Agus Sutarman, MM - Penyuluh Pertanian Madya Pusluhtan/ Sumber: Balai Penelitian Rempah Dan Obat - Puslitbun, Bogor. (Sumber : tabloidsinartani.com)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search