Friday, February 24, 2017

Moch Sayidi, Pelopor Produksi Beras Organik Sri Tanjung

Beras organik merek Sri Tanjung sudah dikenal luas di daerah Banyuwangi Jawa Timur. Semua itu berkat jasa besar Mochammad Sayidi yang mempelopori dan gigih mengajak petani di sekitar tempat tinggalnya untuk menerapkan metode bertanam padi secara organik.

Konsumsi beras sehat dan organik sudah menjadi trend dalam beberapa tahun terakhir ini seiring mulai pedulinya masyarakat terhadap kesehatan pribadi dan anggota keluarga. Beberapa daerah bahkan sudah mengeluarkan beras organik ciri khas daerah, salah satunya adalah Kabupaten Banyuwangi dengan beras organik merek Sri Tanjung yang dihasilkan kelompok tani Sumber Urip.

Beras Sehat Sri Tanjung diproduksi melalui kegiatan budidaya sistem SRI serta menggunakan mikroba pembugar tanah, sehingga beras yang dihasilkan bebas dari pestisida. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji LAB serta sudah diperolehnya Sertifikat Prima 3.

Tak hanya itu, beras ini pun diproduksi dari varietas pilihan, yaitu IR 64, Situbagendit dan Ciherang sehingga rasanya lebih pulen, lebih alami, tanpa bahan pengawet, tanpa pemutih, tanpa pestisida dan tanpa pewangi.

Salah satu aktor dibalik sukses dan dikenalnya Beras Sri Tanjung adalah Ketua Kelompok Tani Sumber Urip, Mochammad Sayidi yang telah memimpin kelompoknya sejak tahun 2010. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk membawa kelompoknya beralih ke jalur pertanaman organik karena sudah terbiasa melaksanakan kegiatan budidaya secara konvensional.

Setidaknya dibutuhkan waktu dua tahun bagi Sayidi untuk meyakinkan kelompoknya agar mau bertanam padi organik di desanya. Salah satu upaya yang dilakukannya adalah dengan mempermudah pengadaan pupuk organik dan agens hayati. Kedua komponen ini menjadi penting bagi usaha pertanaman organik karena aman bagi lingkungan dan konsumen.

Lulus Sertifikasi

Kini lahan pertanian sawah organik dari kelompok tani Sumber Urip telah mencapai luasan 10 hektar. Selain padi organik, kelompok tani ini juga memiliki lahan sawah padi prima yang telah mengurangi konsumsi pupuk anorganik hingga 50%. (Sumber : tabloidsinartani.com)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search