Wednesday, February 22, 2017

Meredam pedasnya harga cabai di pasaran

Memasuki awal tahun 2017 masyarakat mendapat ‘kado pedas’ dengan meroketnya harga cabai rawit hingga Rp 140 ribu/kg. Bahkan di hypermarket harganya mendekati Rp 150 ribu/kg.

ukan hanya masyarakat yang tersengat harga cabai, pemerintah pun dibuat sibuk. Pasalnya, melonjaknya salah satu komoditi bumbu dapur ini bakal memicu inflasi dan mengganggu perekonomian.

Faktor utama naiknya harga cabai adalah berkurangnya pasok­an karena banyak tanaman di sentra produksi yang terganggu karena gangguan iklim. Itu diakui, Ketua Kelompok Tani Sauyunan, Kabupaten Bandung, Juhara bah­wa faktor cuaca menyebabkan serangan OPT cabai rawit merah meningkat.

“Akibat serangan OPT yang gila-gilaan ini, banyak yang gagal panen, sehingga banyak petani juga yang pesimis untuk bertanam kembali,” ujarnya.

Biasanya tiap hari petani mampu menghasilkan 1-2 ton, sekarang hanya 200 kg per 9-10 orang petani. Kondisi itu menurut Juhara, mengerek harga rawit merah di tingkat petani. Saat ini saja berkisar harga mencapai Rp 90-95 ribu/kg. “Ini sangat mahal karena memang pasokannya sedikit,” katanya.

Sementara itu Ketua Kelompok Mekar Tani II, Desa Panembong, Kec. Bayongbong, Kab. Garut, Jawa Barat (Jabar), Ali Yudi juga mengakui, faktor iklim menye­babkan produksi cabai rawit terganggu. Bahkan selama dua bulan terakhir curah hujan tinggi, hingga banyak petani yang kesulitan panen.

“Di kelompok kami ada sebagian petani yang saat curah hujan tinggi sudah memasuki musim panen. Takutnya, kalau cabainya dipanen nanti busuk. Transportasi juga agak susah,” kata dia. Karena kemarau basah selama tahun 2016 menurut Ali, penanaman cabai di Kabupaten Garut tidak bisa dilakukan serempak.

Pasokan Fluktuatif


Info Travel Sangatta info
Dirjen Hortikultura, Kemen­terian Pertanian Spudnik Sudjono mengakui, pasokkan cabai memang fluktuatif karena masalah iklim. La-Nina berpengaruh besar dalam volume pasokan. Adanya anomali iklim ini, membuat banyak panen yang mundur di sentra produksi. Proses pertumbuhan cabai juga terganggu, biaya tenaga kerja semakin tinggi karena hujan, dan gangguan OPT.

“Cabai memerlukan air yang cukup. Tapi kalau berlebihan jus­tru mempengaruhi proses per­tumbuhan. Akibatnya, panen ter­lambat. Upah tenaga kerja men­jadi tinggi karena hujan. OPT juga meningkat, tapi masih bisa dikendalikan,” tutur Spudnik.

Untuk tahun 2017, Spudnik menegaskan, antara ketersediaan dan kebutuhan akan aman. Bahkan bawang merah diprediksi surplusnya cukup tinggi. Sedang­kan cabai besar surplus 2.267 ton dan cabai rawit surplus 5.454 ton.

Data produksi cabai nasional Kementerian Pertanian, produksi cabai besar pada Nopember 77.847 ton, Desember 84.684 ton, Januari 2017 94.368 ton. Sedangkan kebu­tuhan Nopember 75.761 ton, Desember 76.472 ton, Januari 2017 : 92.101 ton. Untuk cabai rawit, produksi pada Nopember 58.747 ton, Desember 61.435 ton, Januari 2017 73.757 ton. Adapun kebutuhan Nopember 53.810 ton, Desember 54.346 ton, Januari 2017 68.303 ton.

Panen untuk cabai kriting/cabai merah besar pada Desember 2016 dan Januari 2017 di sentra utama yaitu Garut,Tasikmalaya, Majalengka, Bandung, Sumedang Sukabumi, Cianjur, Magelang, Rembang, Semarang, Wonosobo, Banjarnegara, Temanggung, Jem­ber, Banyuwangi, Blitar, Maros, Bone, Enrekang dan Lotim.

Sementara panen cabai rawit Desember 2016 dan Januari 2017 di sentra utama, yaitu Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Bandung, Ciamis, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, Temanggung, Blitar, Kediri, Banyuwangi, Probolinggo, Lombok Timur, Takalar dan Bone. (Sumber : tabloidsinartani.com)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search