Wednesday, February 22, 2017

Kesosialan dari Stabilitas Pangan

INFO TERBARU - Salah satu langkah menstabilkan stok dan harga komoditi strategis Kementrian Pertanian mencanangkan Gerakan Menanam 50 juta pohon cabai. Langkah ini juga sebagai upaya mengusahakan kemajuan dalam integrasi sosial, sekaligus peredam gejolak harga dan ketersediaan cabai di pasaran. Mampukah menggerakkan kesadaran sosial untuk mengantisipasi fenomena tahunan fluktuasi harga pangan yang melambung?

Kondisi berat yang terjadi di sektor pertanian sempat diindikasikan oleh Geertz (1963) dengan istilah Agricultural Involution yang terutama terjadi sebagai dampak lunturnya adat istiadat, melemahnya kearifan lokal atau pudarnya modal sosial. Semakin sempitnya lahan usahatani yang diiringi oleh gejala turun tangganya kedudukan petani dari pemilik menjadi buruh tani, telah memicu timbulnya pertentangan antara petani dengan pengusaha yang ingin meluaskan investasinya di berbagai daerah.

Menenangkan dan Menyenangkan

Selain hadirnya para pengambil kebijakan melalui beragam program dan kebijakan, petani dan masyarakat luas merupakan faktor kunci yang strategis dalam Gertam Cabai tersebut. Keyakinan mendalam atas keberhasilan yang diupayakan melalui berbagai gerakan masa, harus pula diinternalisasi pada diri petani dan masyarakat untuk mewujudkan kestabilan harga pangan. Gertam Cabai yang dilaksanakan melalui pendekatan kelompok harus mampu mendorong keyakinan setiap komponen yang terlibat secara kolektif (efikasi kolektif).

Efikasi kolektif harus terus dikontrol sejak awal program dilaksanakan. Secara berkelanjutan pula harus ada program pendampingan yang terus memantau dan mengupayakan tumbuhnya tanggungjawab bersama, kekompakan kelompok, dan interaksi sosial yang saling mendukung. Aspek-aspek tersebut merupakan indikator bahwa efikasi kolektif mampu mendorong keberhasilan Gertam Cabai. Collaborative approach merupakan langkah tepat agar dapat melibatkan seluruh anggota kelompok dalam setiap aktivitas yang dilakukan oleh pendamping.

UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan menggantikan UU No & Tahun 1996. Pada dasarnya UU No. 18 Tahun 2012 ini mengatur mengenai:  Pertama, peningkatan kemampuan untuk memproduksi dan mencukupi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri; kedua, mendorong diversivikasi produksi dan konsumsi pangan untuk membangun ketahanan pangan nasional; ketiga, meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk meningkatkan nilai gizi dan kesehatan pangan, atau mengubah paradigma makan untuk kebutuhan hidup menjadi makan untuk kesehatan. Keempat, menjaga keberlanjutan dan memantapkan ketahanan pangan nasional berkelanjutan dan pembangunan pangan berkelanjutan. (sumber : tabloidsinartani.com)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search