Tuesday, February 21, 2017

Inovasi Teknologi, Mendobrak Produksi Padi di Ujung Timur Indonesia

“Bukan basa-basi”, begitu kira-kira kalimat yang tepat untuk menggambarkan kiprah Badan Penelitan dan Pengembangan Pertanian dalam mendukung pertanian Indonesia saat ini. Inovasi teknologi yang dibawa oleh badan ini telah menyeruak ke seluruh pelosok negeri. Satu bukti yang cukup spektakuler adalah merubah Kabuaten Merauke menjadi lumbung pangan nasional yang ditandai dengan ekspor beras ke PNG, pekan lalu.

Kepala Badan Penelitan dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), M. syakir menjelaskan kebrhasilan yang  di capai Merauke dalam produksi padi ini tidak lepas dari inovasi teknologi yang dikembangkan di sana.

Ada beberapa  inovasi yang diterapkan diantaranya penggunaan varietas unggul seperti varietas Inpari 31, 32 dan 33, penerapan system tanam Jajar Legowo (Jarwo) Super, dan penggunaan alat dan mesin pertanian. “inovasi yang di bawa ini telah dilakukan penyesuaian dengan kondisi setempat, sehingga sangat dapat mendorong produtivitas” ujarnya.

Syakir optimis dengan penerapan inovasi teknologi yang terus-menerus akan tercipta ‘swasembada beras yang permanen’. Sistem penerapan inovasi teknologi ini bukan hanya dikembangkan di Mekauke saja, tetapi telah dikembangkan keseluruh pelosok Indonesia.

Pemerintah tiada henti melakukan terobosan-terobosan inovasi khususnya oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian sebagai pengejawantahan program Upaya Khusus (Upsus) terutama untuk peningkatan produksi padi yang diharapkan dapat diimplementasikan ditingkat petani secara luas.

Saat ini telah dihasilkan teknologi Badan Litbang Pertanian yang terbukti mampu mendongkrak produksi padi 100-175% dari produksi rata-rata nasional melalui teknologi Jajar Legowo Super.

Jarwo Super

Berdasarkan hasil panen ubinan Jarwo Super di Kampung Nggutibob yang dilakukan oleh Tim terpadu BPS Kabupaten Merauke, Peneliti Balitbangtan Papua dan Gapoktan Kampung Nggutibob diperoleh produktivitas Gabah Kering Panen (GKP) dari demfarm menggunakan Varietas Inpari 33 sebesar 8,5 t/ha, sedangkan rata-rata produktivitas pertanaman petani di luar demfarm  dengan varietas Ciherang adalah 3,2 t/ha. (Sumber tabloidsinartani.com)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search