Friday, February 24, 2017

Ayam SenSi, Ayam Kampung Unggul Bertubuh Montok

Bagi peternak ayam lokal (kampung), kini telah hadir ayam unggulan bernama Ayam SenSi. Ayam yang merupakan hasil kajian Balai Penelitian Ternak (Baltinak), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian ini berperawakan montok layaknya ayam ras, tapi bercita rasa khas ayam kampung.

Popularitas ayam kampung di Indonesia hingga kini masih tinggi. Bahkan harganya pun terbilang cukup tinggi dibandingkan ayam ras. Sayangnya, bibit unggul ayam kampung masih susah diperoleh.

“Biasanya, penduduk memang hanya memelihara ayam kampung untuk dibesarkan bukan dibibitkan kembali. Belum lagi silangan dengan ayam ras menjadikan turunan ayam kampungnya tidak murni lagi,” kata Kepala Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Soeharsono kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Dengan kondisi tersebut Balitnak melakukan penelitian breeding ayam lokal dengan mendatangkan indukan ayam lokal murni dari beberapa daerah di Jawa Barat. Salah satunya adalah indukan rumpun ayam Sentul dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Dikatakan, ayam Sentul yang didatangkan dari Ciamis tersebut dijadikan tetua (parent stok) pejantan. Karena sebelumnya Balitnak sudah punya ayam KUB sebagai parent stock betina. Lalu ayam tersebut dilakukan seleksi selama enam generasi (F6).

“Inilah yang kemudian kita sebut dengan nama Ayam Lokal SenSi 1 Agrinak atau lebih dikenal dengan nama Ayam SenSi alias Sentul Terseleksi,” kata Soeharsono.

Menurutnya, dipilihnya ayam lokal Sentul sebagai tetua dari ayam SenSi lebih karena keunggulan proporsi daging yang lebih banyak dibandingkan jenis ayam lokal lainnya. Jadi tidak mengherankan ayam SenSi bisa menghasilkan bobot hidup sebesar 900 gram/ekor dalam waktu 10 minggu. Sementara ayam lokal biasa hanya sekitar 400-500 gram/ekor..

Ayam ini telah ditetapkan sebagai galur ayam lokal pedaging asli Indonesia oleh Menteri Pertanian melalui Surat Keputusan nomor 39/Kpts/PK.020/1/2017. Jenis ini salah satu galur murni (pure line) ayam lokal pedaging unggul. Dapat dimanfaatkan sebagai ayam niaga (final stock) atau ayam tetua (parent stock).

Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Ade M Zulkarnain menyambut baik inovasi Balitnak tersebut. “Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah dalam hal ini Balitnak yang sangat responsif apa yang diinginkan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan langkah inovasi di sektor peternakan menjadi sangat penting untuk terus dilakukan. Apalagi, permintaan konsumsi masyarakat saat ini makin tinggi. Di sisi lain, sektor peternakan mengalami kendala dalam pengembangbiakan ayam lokal unggulan. “Jika bibit sudah menyebar luas di masyarakat, saya optimis unggas lokal bisa mewujudkan cita-citanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” katanya. (Sumber : tabloidsinartani.com)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search